GAMBARAN UMUM KABUPATEN TELUK BINTUNI

teluk-bintuni

1.Letak Geografis, Administratif dan Kondisi Fisik

Secara Astronomis  Kabupaten Teluk Bintuni   Provinsi Papua Barat terletak  antara 1°57’50’’ –  3°11’26’’    Lintang    Selatan    dan    antara 132°44’59’’ – 134°14’49’’ Bujur Timur.  Berdasarkan     posisi     geografisnya, Kabupaten  Teluk  Bintuni  memiliki batas-batas:

  • Sebelah Utara : Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Man
  • Sebelah Selatan : Kabupaten Fakfak dan Kabupaten  Kaiman
  • Sebelah Barat     : Kabupaten Sorong Selatan.
  • Sebelah Timur : Kabupaten Manokwari, Kabupaten Teluk Wondama, dan Kabupaten Nabire.

Kabupaten Teluk Bintuni memiliki luas wilayah 18.637 km2 atau 19,2% dari luas Propinsi Papua Barat. Secara administratif berdasarkan Peraturan Daerah (PERDA) Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pembentukan Distrik, Kabupaten Teluk Bintuni  yang tadinya terdiri dari 10 distrik, pada 2007 dimekarkan menjadi 24 distrik yakni: Farfuwar, Babo, Sumuri, Aroba, Kaitaro, Kuri, Idoor/Wamesa, Bintuni, Manimeri, Tuhiba, Dataran Beimes, Tembuni, Aranday, Tomu, Komundan, Weriagar, Moskona Selatan, Meyado, Moskona Barat, Merdey, Biscoop, Masyeta, Moskona Utara dan Moskona Timur. Kabupaten Teluk Bintuni yang terdiri dari 24 Distrik, terdapat 115 Kampung dan 2 Kelurahan.

  • Topografi

Kondisi topografi Kabupaten Teluk Bintuni 60% adalah dataran rendah dan 40% adalah bergelombang hingga pegunungan. Kawasan dataran rendah dengan kemiringan lahan relatif datar sampai landai terdapat di wilayah pesisir teluk dan kawasan sebelah barat yang berbatasan dengan Kabupaten Sorong Selatan. Kawasan dataran rendah juga terdapat di sebelah selatan Distrik Babo sampai dengan Distrik Farfuwar yang berbatasan dengan Kabupaten Fak-fak.

  • Morfologi

Morfologi Kabupaten teluk Bintuni dapat dibedakan menjadi 2 (dua) satuan morfologi, yaitu sebagai berikut:

  1. Satuan morfologi bergelombang, sebagian besar menempaip daerah bagian utara. Batuan pembentuk morfologi ini terdiri dari satuan batu gamping, konglomerat dan lanau. Pola aliran yang berkembang adalah dendrintik-subdendrintik. Kemiringan lereng berkisar 10-30 derajat.
  2. Satuan morfologi daratan, sebagian besar menempati daerah bagian selatan, tengah, timur dan daerah pesisir pantai. batuan Pembentuk satuan morfologi ini terdiri dari satuan batulempeng, satuan batupasir dan alluvium. Ketinggian satuan morfologi ini berkisar dari 0 m – 75 m diatas permukaan laut dengan lembah berbentuk U.
  • Iklim

Kabupaten Teluk Bintuni dan pada umumnya di seluruh daerah di Provinsi Papua Barat, memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Pada bulan Juni sampai dengan September arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air, sehingga mengakibatkan musim kemarau. Sebaliknya, pada bulan Desember sampai dengan Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudra Pasifik sehingga terjadi musim penghujan. Curah hujan tertinggi pada tahun 2013 terjadi pada bulan Februari sebesar 597,1 mm dan terendah terjadi pada Oktober sebesar 110,4 mm sedangkan jumlah hari hujan terbanyak terjadi pada bulan Juli sebanyak 26 hari dan jumlah hari hujan terkecil terjadi pada bulan Oktober sebesar 14 hari hujan.

Tabel. Luas Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni
Menurut Distrik, 2013

No Distrik Luas (km2) Ratio Terhadap Total (%)
01. Farfurwar 1 171,00 6,28
02. Babo 687,43 3,69
03. Sumuri 1 922,00 10,31
04. Aroba 859,29 4,61
05. Kaitaro 859,29 4,61
06. Kuri 1 611,00 8,64
07. Idoor 816,00 4,38
08. Bintuni 421,75 2,26
09. Manimeri 316,32 1,70
10. Tuhiba 263,60 1,41
11. DataranBeimes 316,32 1,70
12. Tembuni 1 326,00 7,11
13. Aranday 572,01 3,07
14. Tomu 572,00 3,07
15. Komundan 572,00 3,07
16. Weriagar 715,00 3,84
17. Moskona Selatan 929,62 4,99
18. Meyado 743,69 3,99
19. Moskona Barat 743,69 3,99
20. Merdey 789,44 4,24
21. Biscoop 789,44 4,24
22. Masyeta 451,11 2,42
23. Moskona Utara 679,43 3,65
24. MoskonaTimur 509,57 2,73

 

 

peta-adminsitrasi-teluk-bintuniGambar. Peta Administrasi Kabupaten Teluk Bintuni

 

2. Potensi Sumberdaya Alam

  • Pertanian

Hasil produksi tanaman padi di Kabupaten Teluk Bintuni pada tahun 2013 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2012. Pada tahun 2013 produksi padi sebesar 1.651,5 ton, naik sebesar 29,78 persen terhadap tahun sebelumnya. Peningkatan produksi panen juga terjadi pada tanaman jagung, ubi kayu, dan ubi jalar. Kacang kedelai justru mengalami penurunan produksi panen. Peningkatan produksi paling banyak tejadi pada tanaman ubi jalar, yang produksinya pada tahun 2013 naik sekitar tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Peningkatan produksi berbagai komoditas pertanian ini berbanding terbalik dengan kondisi tahun sebelumnya. Dimana hampir semua komoditi tanaman palwija mengalami penurunan hasil produksi pertanian.

Ubi kayu merupakan tanaman pangan yang produktivitasnya paling tinggi di Kabupaten Teluk Bintuni. Hasil produksi tanaman ubi kayu setiap hektarnya adalah 9,05 ton.

Produktivitas tertinggi kedua adalah tanaman ubi jalar, dengan tingkat produktivitas 5,05 ton per hektar. Produktivitas tertinggi ketiga adalah tanaman padi dengan produktivitas 3,93 ton per hektar. Sedangkan produktivitas tanaman pangan lainnya seperti kedelai, dan jagung masing-masing sebesar 1,58 dan 1,27 ton per hektarnya.

  • Perikanan

Kabupaten Bintuni memiliki sumberdaya perikanan yang sangat besar dan merupakan potensi alam yang dapat dikembangkan menjadi sala satu sektor unggulan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Saat ini ada dua kegiatan pemanfaatan sumber daya perikanan yang menonjol, yaitu kegiatan perikanan tangkap dan budidaya kerang mutiara

Jumlah rumah tangga perikanan tersebar di semuah distrik di kabupaten Teluk Bintuni dengan total 790 rumah tangga, dengan jumlah rumah tangga perikanan laut sebanyak 710 rumah tangga dan jumlah rumah tangga perikanan darat sebanyak 80 rumah tangga. Rumah tangga perikanan paling banyak terdapat di Distrik Babo sebanyak 243 rumah tangga, dan terbanyak kedua terdapat di Distrik Bintuni sebanyak 225 dan Distri Aranday sebanyak 117 rumah tangga. Sedangkan rumah tangga perikanan darat terbanyak di Distrik Bintuni yaitu 21 rumah tangga dan paling sedikit pada Distrik Tembuni hanya 6 rumah tangga.

Adapun Peralatan yang dipakai para Nelayan tersebut terdiri dari 843 perahu tanpa motor, 183 perahu motor tempel dan kapal motor sebanyak 3 buah. Peralatan penamgkap ikan yang digunakan oleh nelayan di Kabupaten Teluk Bintuni adalah pukat pantai sebanyak 205 unit.

Hasil produksi perikanan laut keseluruhan di Kabupaten Teluk Bintuni adalah sebesar 110 ton. Dimana hasil produksi terbesar adalah tangkapan ikan lemuru dengan total tangkapan sebesar 76 ton, kemudian ikan selar sebesar 22 ton, dan ikan lencam/sikuda sebanyak 12 ton.

  •  Pertambangan

1. Minyak dan Gas

Kabupaten Bintuni merupakan kabupaten penghasil Minyak dan gas terbesar di wilayah Provinsi Papua Barat , Potensi minyak bumi di kawasan teluk Bintuni tersebar di Kecamatan Bintuni, Merdey, Aranday dan Babo. Perusahaan PMA dan PMDN antara lain British Gas, Conoco, Arco, Patrindo dll. Selain kaya akan minyak bumi, kawasan ini juga kaya akan gas bumi. Potensi gas bumi sebesar 13 trilyun kaki kubik dengan volume cadangan sebesar 20 trilyun kaki kubik. Saat ini lapangan gas bumi di kawasan Teluk Bintuni telah di ekplorasi oleh perusahaan multinasional beyond Petroleum (BP) dengan proyek “LNG Tangguh” Lokasi pabrik pengelolaan LNG ini dibangun di daerah Saengga, Tanah Merah dan Babo.

2. Batu Bara

Terdapat di Kecamatan Bintuni sekitar daerah Horna dengan volume cadangan 4,5 juta metric ton, dan di daerah Tembuni dengan volume cadangan 14,29 juta metric ton. Dari hasil analisis, kandungan batubara terdiri dari belerang: 44,4-51,8% zat terbang:40,3-49,3%. Nilai kalori yang dihasilkan 5870-7935 kalori/kg. Sampai saat ini potensi batubara belum dimanfaatkan secara komersial.

3. Sirtu

Bahan galian sirtu di daerah Kabupaten Teluk Bintuni ditemukan tersebar di beberapa lokasi: yaitu antara lain menempati daerah/ Desa Mayado, Distrik Timbuni, Desa Barna, Distrik Maskona, Desa Jagiro, Distrik Jagiro, Kampung Kalikodok, Distrik Bintuni, Kampung Argo Simerai. Sumberdaya Hipotetik mencapai 2.130.000 ton

4. Lempung

Bahan galian lempung tersebar di beberapa lokasi, yaitu da daerah Kampung Jagiro, Kampung Wasiri, Kampung Kalikodok, dan Kampung Banjar Ausoi. Sumberdaya Hipotetik mencapai 870.000 ton

5. Pasir Kuarsa

Pasir Kuarsa terdapat di daerah Desa Barma dan Kampung Jagiro, sebaran tidak kurang dari 1 Ha. Sumberdaya Hipotetik mencapai 24.000 ton.

6. Kaolin

Potensi Kaolin di daerah Desa Barma, sebaran tidak kurang dari 0,5 Ha. Sumberdaya Hipotetik mencapai 35.000 ton.

 

3. Penduduk dan Tenaga Kerja

  • Penduduk

Selama kurun waktu empat tahun terakhir sejak Sensus Penduduk 2010, pertambahan penduduk Kabupaten Teluk Bintuni terus mengalami kenaikan, dari 52.422 jiwa pada tahun 2010, meningkat menjadi 54.194 jiwa pada tahun 2011, kemudian meningkat lagi menjadi 56.167 jiwa pada tahun 2012 dan 56.597 pada tahun 2013.

Hal ini mengindikasikan tingginya tingkat kelahiran (fertilitas) serta meningkatnya arus perpindahan penduduk. Bila dilihat dari perbedaan jenis kelamin, terlihat bahwa sex rasio penduduk Kabupaten Teluk Bintuni pada tahun 2013 sebesar 123,89 yang berarti bahwa jumlah penduduk laki-laki di kabupaten.

Jumlah penduduk Kabupaten Teluk Bintuni dari tahun ke tahun semakin meningkat. Selama periode 2010-2013 tingkat pertumbuhan penduduk tercatat 0,77 persen pada tahun 2013.

Dengan luas wilayah sekitar 18.637 Km2 kepadatan Penduduk di Kabupaten Teluk Bintuni pada tahun 2013 sebesar 3,04 yang artinya setiap 1 Km2 ditempati penduduk sebanyak 3 orang. Kepadatan penduduk di Kabupaten Teluk Bintuni tidak merata, hal ini dikarenakan mayoritas penduduknya bermukim di wilayah kota. Distrik yang paling padat adalah Distrik Bintuni yang kepadatannya sebesar 49,84 yaitu di setiap 1 Km2 ditempati penduduk sebanyak 49 orang. Distrik dengan kepadatan penduduk terbesar kedua adalah Distrik Manimeri dengan kepadatan penduduknya sebesar 16,92 yang berarti di setiap 1 Km2 ditempati penduduk sebanyak kurang lebih 16 orang.

Komposisi penduduk Kabupaten Teluk Bintuni didominasi oleh penduduk muda/dewasa. Hal menarik yang dapat diamati pada piramida penduduk adalah adanya perubahan arah perkembangan penduduk yang ditandai dengan penduduk usia 0-4 tahun yang jumlahnya lebih besar dari kelompok penduduk usia yang lebih tua yaitu 5-9 tahun. Jika pemerintah berhasil mempertahankan tingkat pertumbuhan yang rendah atau lebih rendah dibanding sebelumnya, maka seharusnya jumlah penduduk usia 0-4 tahun lebih rendah dibandingkan penduduk usia 5-9 tahun. Hal ini seharusnya dapat menjadi perhatian pemerintah dalam mengambil langkah-langkah kebijakan di bidang kependudukan ke depan.

  • Tenaga Kerja

Selama tahun 2013, penduduk usia kerja Kabupaten Teluk Bintuni berjumlah 38.006 jiwa. Sedangkan Angkatan Kerja di Kabupaten Teluk Bintuni pada tahun 2013 berjumlah 27.031 jiwa yang terbagi atas angkatan kerja laki-laki sebesar 17.609 jiwa dan angkatan kerja perempuan sebesar 9.422 jiwa. Kemudian untuk penduduk yang bekerja selama tahun 2013 berjumlah 25.351 jiwa dengan komposisi laki-laki sebanyak 16.870 jiwa dan perempuan sebanyak 8.481 jiwa.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kabupaten Teluk Bintuni mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2013 TPAK Kabupaten Teluk Bintuni sebesar 71,12 persen. Hal ini mengindikasikan peningkatan penduduk usia Kerja (15 tahun ke atas) yang masuk dalam pasar kerja, yang berarti bahwa semakin bertambah.

danau-teluk-bintuni

4. Perekonomian

Nilai PDRB Kabupaten Teluk Bintuni pada tahun 2013 sebesar Rp 24,06 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp. 6,79 triliun atas dasar harga konstan 2000. PDRB Kabupaten Teluk Bintuni tahun 2013 mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2012 yaitu Rp. 19,77 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp. 5,99 triliun atas dasar harga konstan.

Bila tanpa memperhitungkan sektor migas, besarnya PDRB Kabupaten Teluk Bintuni tahun 2013 sebesar Rp. 1,42 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp. 679,61 miliar atas dasar harga konstan 2000.

Perbedaan PDRB atas dasar harga berlaku dengan migas dan tanpa migas sebesar Rp. 22,64 triliun atau sekitar 94,09 persen terhadap total PDRB. Hal ini membuktikan bahwa kontribusi subsektor migas dalam PDRB Kabupaten Teluk Bintuni cukup signifikan.

Struktur perekonomian Kabupaten Teluk Bintuni ditunjukkan melalui distribusi persentase nilai tambah atas dasar harga berlaku per sektor. Struktur ini dapat memperlihatkan sektor-sektor utama yang berkontribusi besar dalam perekonomian.

Terdapat tiga sektor unggulan penggerak perekonomian Kabupaten Teluk Bintuni sebagai kontributor utama dalam PDRB.

Ketiga sektor itu adalah sektor industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB Kabupaten Teluk Bintuni sebesar 93,26 persen, sektor pertanian memberikan kontribusi 2,80 persen, sektor pertambangan dan penggalian menyumbangkan 1,49 persen serta sektor bangunan sebesar 1,04 persen. Sementara sektor lainnya memberikan sumbangan terhadap PDRB masing-masing kurang dari 1 persen.

Pada tahun 2013 terjadi perkembangan PDRB ADHB dan ADHK yang cukup signifikan dengan nilai mencapai 24,06 triliun rupiah dan 6,80 triliun rupiah. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Teluk Bintuni yang ditunjukkan oleh kenaikan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ekonomi tahun 2013 sebesar 13,27 persen. Kondisi ini mengalami perlambatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan tanpa memperhitungkan subsektor migas (tanpa migas), pertumbuhan ekonomi Kabupaten Teluk Bintuni tahun 2013 sebesar 4,57 persen. Kondisi ini mengalami perlambatan dibandingkan dengan tahun 2012 yaitu sebesar 4,98 persen.

 

5. Infrastruktur

  • Transportasi Darat

Jalan Sebagai sarana penunjang transportasi yang memiliki peran penting khususnya transportasi darat. Oleh karenanya, pemerintah daerah Kabupaten Teluk Bintuni sampai dengan tahun 2013 telah membangun jalan sepanjang 1.359,79 Km. Dari total panjang jalan yang ada hanya 7,07 persen jalan yang sudah diaspal dan cor.

Berdasarkan kondisi jalan di Kabupaten Teluk Bintuni tahun 2013, tercatat bahwa kondisi jalan dalam keadaan baik sepanjang sebesar 5,84 persen, sedangkan kondisi rusak dan rusak berat sebesar 30,37 dan 34,82 persen dari total panjang jalan.

Sarana transportasi yang banyak digunakan oleh masyarakat Kabupaten Teluk Bintuni yaitu sarana transportasi angkutan darat. Pada tahun 2013, jumlah sarana angkutan darat yang paling banyak digunakan oleh masyarakat adalah sepeda motor, yakni sebanyak 2.238 unit. Sedangkan bus jumlahnya sebanyak 158 unit. Sedangkan jenis kendaraan mobil penumpang seperti jeep atau minibus berjumlah 156 unit.

  • Transportasi Laut

Di Bintuni terdapat 3 dermaga laut/sungai yang dimanfaatkan untuk  pelayanan penumpang umum yaitu: Dermaga Bintuni (60 x 20 m) dapat disandari oleh kapal dengan ukuran 1000-1800 ton; Dermaga Babo (60 x 20 m) dengan kapasitas yang sama; Dermaga Sumuri-Kelapa dua dengan ukuran 25 x 10 m khusus bagi kapal-kapal dengan ukuran kecil antara 100-300 ton. Kemudian terdapat 1 (satu) pelabuhan khusus milik negara di LNG Tangguh dengan kapasitas  yang  sangat  besar  yang  digunakan  khusus  untuk  kepentingan  operasional  LNG Tangguh. Kondisi pelabuhan di beberapa distrik pantai dan pesisir (Aranday, Idoor, dan Kuri) masih  belum tersedia  dan belum dapat disandari oleh kapal-kapal niaga dan penumpang sehingga akses di distrik-distrik tersebut dan sebagian besar kampung hanya dilayani dengan menyediakan jembatan titian (jeti) kayu.

Sepanjang tahun 2009 – 2012, aktivitas kedatangan penumpang dan unit kapal sepanjang tahun 2010-2011 relatif meningkat. Aktivitas kapal di tahun 2012 cenderung meningkat sebesar  651  dibandingkan  tahuun  2010  sebesar  491.  Namun  kondisi  sebaliknya  untuk aktivitas penumpang cenderung turun ditahun 2012 dibandingkan tahun 2010. Gambaran detail tersaji dalam tabel berikut.

  • Transportasi Udara

Berdasarkan data statistik angkutan udara, banyaknya pesawat yang datang dan berangkat melalui bandara bintuni pada tahun 2013 sebanyak 2.005 kali dengan membawa penumpang datang sebanyak 29.937 orang dan memberangkatkan penumpang sebanyak 32.906 orang. Aktifitas penerbangan terpadat pada tahun 2013 di Bandara Bintuni terjadi pada bulan Oktober dengan jumlah penerbangan sebanyak 181 kali dengan 2 sampai 3 kali penerbangan perharinya, dengan membawa penumpang datang sebanyak 2.818 orang.

Kondisi infrastruktur transportasi udara dan moda transportasi jenis ini sampai dengan akhir tahun 2012 relatif lebih baik. Bandar Udara yang ada di wilayah Kabupaten Teluk Bintuni diantaranya ada di Bintuni, Babo, Merdey, Mayado, Moyeba, Horna-Beimes, Jagiro, Mayado, dan  Meyerga.  Secara  umum  bandara  utama  di  Kabupaten  Teluk  Bintuni  ada  3  yaitu:  1. Bandara Bintuni untuk keperluan komersial; 2. Bandara Babo yang sekarang diperuntukan bagi pesawat khusus untuk kepentingan operasional perusahan BP Tangguh dan mitranya. Bandara lainnya di beberapa distrik merupakan bandara perintis dengan landasan rumput yang hanya mampu didarati oleh pesawat jenis kecil chesna (AMA dan MAF) serta belum tersedia jalur transportasi yang reguler. Sepanjang  tahun  2009  –  2012,  aktivitas  kedua  bandara  tersebut  cenderung  meningkat.

  • Kelistrikan

Di tahun 2012, energi listrik yang terjual di Kabupaten Teluk Bintuni sebesar 4,062,798 Kwh dengan daya terpasang 6,420,000 VA serta jumlah pelanggan sebanyak 5,024. Pencapaian ini relatif meningkat dibandingkan sebelumnya. Adapun rinciannya sebagai berikut.

  • Air Bersih

Di Kabupaten Teluk Bintuni, secara berturut-turut, mayoritas rumah tangga menggunakan sumber utama air minum yang berasal dari air hujan, sumur terlindungi, sumur bor atau pompa, dan sumur tidak terlindungi. Disini, belum terdapat Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).  Rincian  penggunaan  air  oleh  rumah  tangga  menurut  sumber  utama  air  minum adalah sebagai berikut.

 

6. Rencana Pengembangan

Dalam upaya pengembangan komoditas pertanian yanga ada untuk memenuhi kebutuhan masyarakat serta mengantisipasi kebutuhan perusahaan-perusahaan yang akan beroperasi di kabupaten Teluk Bintuni, akan diadakan survey khusus untuk membuat data pemetaan penyebaran komoditas pertanian, perkebunan dan peternakan sesuai wilayah penyebaran dan kesesuaian lahan yang ada dengan pengembangan daerah – daerah sentra produksi, yang diarahkan pada pengembangan komoditas – komoditas unggulan lokal yang berkwalitas baik dan berproduksi tinggi.

Sejalan dengan arah kebijakan Pembangunan Nasional maka pembangunan pertanian di kabupaten Teluk Bintuni diarahkan pada pembangunan pertanian berbasis Agribisnis yang ramah lingkungan dengan dititik beratkan pada pembangunan Agribisnis hulu, Agribisnis tengahan dan Agrbisnis hilir sehingga dapat menghasilkan hasil produksi yang berdaya saing tinggi dengan memanfaatkan potensi sumberdaya alam yang ada.

  • Agribisnis hulu

Pembangunan pertanian yang moderen perlu didukung oleh mekanisasi yang memadai agar menghemat waktu, tenaga dan biaya serta meningkatkan satuan luas pertanaman dibanding dengan pengerjaan secara manual / tradisional. Sejalan dengan maksud tersebut maka dinas pertanian telah mengupayakan pengadaan beberapa alat dan mesin pertanian secara bertahap seperti, Hand tracktor, Rice milling unit ( RMU ), Power threser, Drayer untuk menunjang kegiatan usaha tani masyarakat.

  • Agribisnis Tengahan

Kegiatan agribisnis tengahan merupakan kegiatan proses produksi dengan menggunakan rekayasa tehnologi pertanian yang meliputi pekerjaan pembukaan lahan, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharan dan panen. Dalam kegiatan agribisnis tengahan telah diupayahkan pengembangan beberapa komonditi pertanian maupun perkebunan seperti padi, sayur – sayuran, buah – buahan, kakao, pinang, siri sedangkan untuk bidang peternakan direncanakan ternak sapi, kambing, ayam dan itik.

  • Agribisnis Hilir

Agribisnis hilir merupakan proses penangan panen, pengolahan hasil produksi pertanian menjadi bahan jadi atau buah – buahan segar yang memenuhi standar mutu sehingga mampu bersaing dipasaran local, Nasional maupun Internasional. Dalam upaya tersebut telah diupayakan bimbingan kepada para petani dan pengadaan alat/ mesin panen yang sementara ini masih terbatas pada komoditi padi seperti power threser, Rice milling unit ( RMU ). Sedangkan untuk komoditi lain masih diusahakan secara tradisional. Dengan penggunaan alat dan mesin yang memadai pada proses panen serta waktu panen yang tepat akan menghasilkan hasil produksi yang berkwalitas tinggi.

Be the first to comment on "GAMBARAN UMUM KABUPATEN TELUK BINTUNI"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*