GAMBARAN UMUM KABUPATEN KEEROM PROVINSI PAPUA

KABUPATEN-KEEROM-KEGIATAN

1. Letak Geografis, Adminitratif dan Kondisi Fisik

Kabupaten Keerom Provinsi Papua secara geografis berbatasan langsung dan berada memanjang di daerah perbatasan Republik Indonesia dengan Negara Papua New Guinea (PNG) memiliki luas 9.365 Km2, secar astronimis Kabupaten Keerom terletak antara 1400 15′ 0” – 1410 0’0” Lintang Selatan dan 20 37′ 0” – 40 0′ 0” Bujur Timur.

Kabupaten Keerom dengan luas wilayah 9.365 Km2 memiliki batas-batas wilayah administratif sebagai berikut :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kota Jayapura.
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pegunungan Bintang.
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Jayapura.
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Negara Papua New Gunea (PBG).

Kabupaten Keerom merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua yang sebelum berdiri menjadi kabupaten merupakan bagian dari Kabupaten Jayapura. Hingga payung hukum UU RI No.26 Tahun 2002, Keerom resmi menjadi kabupaten yang berdiri sendiri.

 

LOGO-KABUPATEN-KEEROM

Dengan ketinggian berkisar antara 0 sampai 2000 meter diatas permukaan laut (mdpl), wilayah Kabupaten Keerom merupakan lereng dengan kemringan lebih dari 40%. Sebagian besar wilayah yakni seluas 5.722,96 Km² (61,11% dari total wilayah) berada pada ketinggian 400 – 1.500 Mdpl. Distrik Arso, Skanto dan Arso Timur merupakan wilayah terendah dengan ketinggian diantara 0 sampai 1000 mdpl.

Menempati wilayah seluas 9.365 Km², Kabupaten Keerom memiliki letak geografis yang berbatasan langsung dengan Negara Papua New Guinea (PNG) disebelah timur. Sedangkan diwilayah sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pegunungan Bintang. Disebelah utara berbatasan dengan Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura disebelah barat. Secara geografis kabupaten ini berada diantara 140ᵒ15’ – 141ᵒ0’ bujur timur dan 2ᵒ37’0” – 4ᵒ0’0” lintang selatan.

Sementara itu suhu yang berkisar antara 25,0ᵒC – 32,2ᵒC, menjadikan Kabupaten Keerom memiliki suhu yang cukup panas dengan kelembaban yang cukup tinggi (78,0% – 83,0%). Panasnya suhu di Kabupaten Keerom dimibangi dengan curah hujan yang cukup tinggi sebesar 2.557 mm dan hari hujan sebanyak 148 hari. Kecepatan maksimum angin berkisar antara 8,9 – 0,8 knot. Sedangkan tekanan udara antara 1.009,7 mbps – 1.012,1 mbps.

Hingga tahun 2013, Kabupaten Keerom terdiri dari 7 distrik yaitu Distrik Arso, Skanto, Arso Timur, Web, Waris, Towe dan Senggi. Pada awal pembentukan Kabupaten Keerom hanya terdiri dari 5 distrik yaitu Distrik Arso, Skanto, Senggi, Web dan Waris.
Dari tujuh distrik yang terdapat di Kabupaten Keerom, lima distrik diantaranya berbatasan langsung dengan Negara PNG, antara langsung Distrik Waris, Senggi, Web, Arso Timur dan Towe. Panjangnya wilayah yang berbatasan langsung dengan Negara PNG ini belum sebanding dengan jumlah personil yang bertugas di Pos Lintas Batas (PLB) yang tersedia.
Sampai 2013, PLB di Kabupaten Keerom berjumlah 4 pos, setiap pos dijaga oleh 6 personil. Pos tersebut tersebar di empat kampung Skowfro (Distrik Arso Timur), Pund (Distrik Waris), Yabanda (Distrik Senggi) dan Akarinda (Distrik Web). Sedangkan di Distrik Towe belum terdapat PLB.

Dari ketujuh Distrik tersebut, Distrik Senggi yang berada disisi barat daya merupakan distrik yang memiliki daerah terluas yaitu 3.088,55 Km² atau 32,98% dari total luas wilayah Kabupaten Keeerom. Sedangkan Arso Timur merupakan distrik dengan luas wilayah paling kecil seluas 461,16 Km² atau hanya 4,92%. Ibukota kabupaten yang berlokasi di Distrik Arso secara langsung berdampak terhadap kemudahan bagi wilayah yang terdapat di Distrik ini untuk mengakses pusat pemerintahan.

Wilayah berikutnya yang memiliki jarak relatif dekat dengan ibukota Kabupaten adalah Distrik Skanto sejauh 30 Km. sedangkan Distrik yang memiliki jarak terjauh dari ibukota Kabupaten adalah Distrik Towe sejauh 200 Km sehingga akses tercepat hanya bisa ditempuh menggunakan transportasi udara.

Berdasarkan jarak tempuh yang menghubungkan suatu distrik ke distrik lainnya, jarak terdekat menghubungkan antara Distrik Senggi dan Waris yang berkisar 35 Km. sedangkan Distrik Towe yang berada di ujung tenggara yang relatif masih terisolir dan sulitnya medan yang ditempuh menyebabkan akses dari kampung menuju ibukota distrik harus ditempuh menyebabkan akses dari kampung menuju ibukota distrik harus ditempuh dengan berjalan kaki. Sebagian besar kampung di distrik ini harus berjalan kaki beberapa kilometer untuk mencapai pusat pemerintahan.

Bahkan kampung Towe Atas dan Towe Hitam untuk menuju pusat distrik Towe, harus menempuh perjalanan kurang lebih selama 24 jam dengan jalan kaki sehingga untuk mempercepat akses di ibukota distrik maka masyarakat menggunakan pesawat.

Sementara itu berdasarkan lahan yang dimiliki, luas lahan bukan sawah di Kabupaten Keerom sebagian besar masih berfungsi sebagai hutan seluas 841.701 Ha atau 97,29%. Sisanya sebesar 16.405 Ha (1,90%) dikelola sebagai perkebunan besar dan 4.056 Ha (0,47%) sebagai pertanian lahan kering. Sedangkan luas lahan yang berfungsi sebagai pemukiman penduduk hanya 686 Ha atau 0,08% dari total lahan bukan sawah.

Lahan yang difungsikan sebagai hutan lindung di Kabupaten Keerom merupakan penggunaan terbesar yakni 39,34% dari total luas lahan dan berfungsi sebagai hutan produksi konversi sebesar 25,55%. Penggunaan lahan terkecil adalah sebagai HPPA (0,31%).

Distrik Arso Timur, Skanto, Arso dan Senggi merupakan daerah yang mayoritas tersusun dari batuan sedimen tersier dan pletosin yang bercampur kapur konglomerat, debu, pasir, kerikil, dan beberapa nopal. Deposit wartel atau rawa yang terbentuk akibat tertutupnya batuan sedimen tersier dan pletosin juga menyusun sebagian besar kabupaten ini, seperti Distrik Arso Timur, Skanto, Arso, dan Waris.

Kabupaten Keerom merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua yang sebelum berdiri menjadi kabupaten merupakan bagian dari Kabupaten Jayapura. Hingga dengan payung hukum UU RI No. 26 Tahun 2002, Keerom resmi menjadi kabupaten yang berdiri sendiri dengan pusat pemerintahan ibu kota di Waris. Walaupun hingga kini pusat pemerintahan masih di Arso

Kabupaten Keerom terdiri dari tujuh distrik (Kecamatan) yaitu Arso, Skanto, Arso Timur, Web, Waris, Towe dan Senggi. Pada awal pembentukannya, kabupaten ini terdiri dari 5 distrik, di antaranya Distrik Arso, Skanto, Web, Waris, dan Senggi. Hingga pada akhir 2009, terdapat pemekaran distrik baru menjadi 7 distrik. Distrik Arso mengalami pemekaran menjadi Distrik Arso dan Arso Timur..

Jumlah kampung (desa) di Kabupaten Keerom tercatat sebanyak 61 kampung. Distrik Arso merupakan distrik dengan jumlah kampung terbanyak yakni 17 kampung. Distrik Arso Timur sebanyak 11 kampung, Skanto sebanyak 8 kampung, dan Towe sebanyak 7 kampung. Sedangkan Distrik Waris, Senggi, dan Web masing-masing terdiri dari 6 kampung. Namun dalam perkembangan terakhir hingga pertengahn tahun 2015 diketahui bahwa telah terjadi penambahan jumlah kampung sebanyak 30 buah kampung, jadi jumlah kampung di Kabupaten Keerom sekarang berjumlah 91 kampung.

Luas wilayah Kabupaten Keerom 9.365 Km2, Kabupaten Keerom memiliki letak geografis yang berbatasan langsung dengan Negara Papua New Guinea (PNG) di sebelah Timur. Sedangkan wilayah sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pegunungan Bintang, di sebelah Utara berbatasan dengan Kota Jayapura, dan Kabupaten Jayapura di sebelah Barat. Secara geografis kabupaten ini berada di antara 140 o 15’ – 141o0’ Bujur Timur dan 2o37’0” – 4o0’0” Lintang Selatan.

Dalam tata pemerintahan di Kabupaten Keerom secara keseluruhan setiap kampung di Kabupaten Keerom telah dilengkapi dengan perangkat kampung yang baik. Setidaknya setiap kampung telah memiliki kepala kampung, sekretaris kampung, dan beberapa kepala urusan kampung. Selain itu, keberadaan Ondoafi menjadi bagian penting dalam hubungan kemitraan antara pemerintah setempat dan masyarakat adat. Di Kabupaten Keerom terdapat 30 orang Ondoafi yang merupakan representasi masyarakat adat.

Sektor-sektor unggulan di Kabupaten Keerom yang dikembangkan dalam rangka menghasilkan devisa utama bagi pembangunan di daerah ini adalah sektor Pertanian, sektor pertambangan, dan Perikanan. Jumlah penduduk Kabupaten Keerom berdasarkan data panduduk di tahun 2013 sebanyak 51.722 jiwa (Keerom Dalam Angka 2014).

Distrik Senggi merupakan daerah terluas yaitu 3.088,55 Km2 atau sebesar 32,98 % dari total luas Kabupaten Keerom. Sedangkan Distrik Waris merupakan daerah terkecil dengan luas 911,94 Km2 atau sebesar 9,74 % dari total luas Kabupaten Keerom.

 

Tabel. Luas Wilayah Kabupaten Keerom

Distrik Luas

(Km2)

Rasio Terhadap Total ( % )
1 Arso dan Arso Timur

2 Skanto

3 Waris

4 Senggi

5 Web dan Towe

2.097,36

1.504,65

911,94

3.088,55

1.762,50

22,40

16,07

9,74

32,98

18,82

Jumlah 9.365,00 100,00

 

 

PETA-KABUPATEN-KEEROM-PROVINSI-PAPUA

Gambar. Peta Administrasi Kabupaten Keerom

 

  • Topografi

Topografi wilayah Kabupaten Keerom merupakan lahan dengan kemiringan sekitar 52,2%. Untuk wilayah lahan datar sekitar 44,05% sedangkan 2,75% adalah wilayah perbukitan dan rawa. Daerah datar umunya tersebar dibeberapa kawasan pada Distrik Arso, Skanto, Waris, Senggi dan Web.

Ketinggian Kabupaten Keerom berkisar antara 0 – 2000 M diatas permukaan laut, dimana Distrik Arso, Arso Timur dan Distrik Skanto merupakan daerah terendah dengan ketinggian 0 – 1000 M diatas permukaan laut. Sedangkan Distrik Waris, Senggi, Web dan Towe berada pada ketinggian 500 – 2000 M dari permukaan laut.

Tekstur tanah di wilayah Kabupaten Keerom 99,36 % merupakan tanah bertekstur halus. Tanah dengan tekstur gambut terdapat di Distrik Senggi yang meliputi 0,42 % dari wilayah Kabupaten Keerom.

 

Tabel. Ketinggian dari Permukaan Laut (dpl)

Dirinci menurut Distrik

Distrik Ibukota Distrik Ketinggian

(M dpl)

(1) (2) (3)
1. Arso

2. Skanto

3. Waris

4. Senggi

5. Web

6. Arso Timur

7. Towe

Arso Kota

Jaifuri

Pund

Senggi

Ubrub

Yetty

Towe Hitam

0

0

0

0

500

0

500

1000

1000

2000

2000

2000

1000

2000

 

Di wilayah Kabupaten Keerom yang terdiri dari 7 distrik, baru Distrik Arso, Skanto dan Waris yang telah dapat dijangkau dengan transportasi darat kendaraan roda 4 maupun roda 2 hingga ke kampung-kampungnya. Untuk Distrik Senggi, Arso Timur dan Web dapat ditempun dengan kendaraan roda 4 maupun roda 2 hingga ke ibu kota distrik dan hanya sebagian kecil kampungnya saja. Sedangkan untuk mencapai Distrik Towe hanya dapat ditempuh dengan transportasi udara, dan untuk mencapai kampung-kampungnya harus dengan berjalan kaki.

 

Tabel. Jumlah Kampung dan Klasifikasi

Distrik Klasifikasi Jumlah
Swadaya

Swakarsa

Swasembada
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Arso

2. Skanto

3. Waris

4. Senggi

5. Web

6. Arso Timur

7. Towe

16

8

6

6

6

11

7

1

17

8

6

6

6

11

7

Jumlah 60 1 61

 

 

  • Iklim dan Curah Hujan

 

Wilayah Kabupaten Keerom diklasifikasikan sebagai wilayah beriklim tropis basah karena curah hujan cukup tinggi per-tahunnya dengan suhu udara rata-rata mencapai 30,5-35,1°C dengan kelembaban udara antara 80-89 % dalam 0°C. Berdasarkan catatan dari Balai Meteorologi dan Geofisika, pada tahun 2007 jumlah curah hujan di Kabupaten Keerom sebesar 1.096 mm. Sedangkan jumlah curah hujan tahun 2006 yaitu sebesar 980 mm. Hari hujan pada tahun 2007 yaitu sebesar 105 hari. Sedangkan jumlah hari hujan yang terjadi pada tahun 2006 yaitu sebanyak 106 hari hujan.

 

2. Potensi Sumber Daya Alam

  • Tanaman Pangan dan Hortikultura

Pada beberapa lokasi, pertanian tanaman pangan di Kabupaten Keerom masih  dilakukan dengan sistem tradisional sehingga tingkat produktivitas masih rendah.  Akan tetapi pada kawasan-kawasan yang berkembang terutama di wilayah transmigrasi  (Distrik Arso dan Distrik Skanto), budidaya tanaman pangan dan hortikultura telah dilakukan secara lebih  intensif dan  telah menerapkan teknologi budidaya yang modern. Oleh karena itu, sub-sektor pertanian tanaman pangan dan hortikultura mampu menjadi kontributor utama dalam perekonomian sektor pertanian maupun perekonomian wilayah kabupaten. Luas penggunaan lahan untuk tanaman pangan di Kabupaten Keerom pada Tahun Tahun 2010 mencapai 2.227 ha. Dan untuk tanaman hortikultura pada tahun yang sama mencapai luas 1.864 ha. Komoditas yang menonjol peranannya pada sub-sektor tanaman pangan dan hortikultura adalah Ubi Jalar, Ubi Kayu, dan Padi Sawah. Ketiga komoditas ini merupakan penyumbang utama bagi produk wilayah Kabupaten. Produksi ketiga komoditas pada Tahun 2010 berturut-turut adalah 2.714 ton, 2.360 ton dan 1.287 ton.dan 1.190 ton.

  • Sumber Daya Mineral

Keberadaan sumberdaya mineral di daerah ini ditafsirkan dari kondisi global dan peristiwa tektonik, sehingga dengan munculnya batuan interusi seperti dirit, granodiorit, monzonit dan andesit yang menerobos batuan sekitarnya, tidak menutup kemungkinan adanya daerah potensi mineralisasi seperti emas, tembaga dan minerallainya di daerah Amgotro dan Ubrub bagian selatan. Mineralisasi tembaga dan emas di jalur Pegunungan Tengah  Papua sangat erat hubungannya dengan munculnya intrusi diroit atau monzonit yang umum terdapat di aljur Papua Ofiolit Belt. Dengan demikian bagian selatan Kabupaten Keerom, yang banyak dijumpai batuan intrusi tersebut, sangat berpotensi terdapatnya mineralisasi emas dan tembaga. Kemunculan batuan ultrabasa, dapat dijadikan sebagai indikasi batuan sumber dari tersedianya berbagai endapan logam, seperti Nikel, Mangan,Timah Hitam, Besi dan Kromit serta adanya energi fosil Batubara. Proses laterisasi yang dihasilkan oleh pelapukan batuan ultra basa yang berumur Pra Tersier sangat berpotensi untuk menghasilkan endapan tersebut. Selain potensi mineralisasi emas primer, maka emas sekunder berupa emas plaser telah telah banyak dilaporkan di temukan di sekitar Sungai Keerom yang diperkirakan bersumber dari batuan gunung api Auwewa yang berumur Oligo-Miosen. Bahan bangunan seperti batuan beku diorit, andesit, gabro, basal, ultrabasa dan batuan sedimen keras lainnya dapat digunakan sebagai bahan bangunan pondasi, jalan dan sebagainya. Batu gamping dan batulempung yang banyak terdapat di daerah ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku semen.

  • Kehutanan

Sumber daya hutan merupakan potensi alam yang paling besar dimiliki Kabupaten Keerom, dan pada umumnya potensi ini belulm banyak dimanfaatkan. Sebagian besar Kabupaten Keerom ditutupi oleh hutan, yaitu mencapai luas 942.157,31 ha (88,04% dari luas kabupaten). Pada tahun 2010, sub-sektor kehutanan mampu menyumbang PDRB Kabupaten Keerom sebesar 8,53 % dan menempati urutan ketiga dalam sektor pertanian. Perencanaan tata ruang harus mengalokasikan wilayah lindung dan budidaya hutan secara proporsional untuk menjamin tercapainya pemanfaatan sumberdaya hutan secara berkelanjutan. Berdasarkan kajian di lapangan diketahui bahwa Kabupaten Keerom terdapat 5 macam kawasan hutan yang meliputi Hutan Lindung (HL), Hutan Produksi (HP), Hutan Produksi Konversi (HPK), Hutan Produksi Terbatas (HPT), dan kawasan suaka alam. Luas keseluruhan kawasan hutan tersebut mencapai 841.857 ha (71,51% dari areal berhutan). Berbagai komoditas yang dapat dikembangkan pada sub-sektor kehutanan antara lain meliputi yaitu kayu, rotan, dan kulit kayu yang dapat dioilah menjadi plywood, block-board, veneer, lumber-core, kayu gergajian dan poliyester. Selain itu dapat pula dikembangkan produk non kayu seperti madu, plasma nutfah, dan jasa lingkungan hutan lainnya.

  • Peternakan

Sub sektor peternakan merupakan salah satu sub sektor yang harus diperhatikan karena dapat memberikan kontribusi terhadap perekonomian jika dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. Secara umum populasi ternak yang ada di Kabupaten Keerom terbagi dalam dua jenis yaitu populasi ternak besar, ternak kecil, dan unggas. Sapi dan kambing merupakan populasi ternak tertinggi yang banyak dikembangbiakan di kabupaten ini, kemudian disusul oleh ternak Babi, sedangkan ternak unggas yang banyak dikembangbiakkan di Kabupaten Keerom adalah Ayam Ras, Ayam Buras, Angsa, Itik dan Entok. Populasi Ayam Buras merupakan populasi terbesar yang dikembangbiakan di Kabupaten Keerom (61.520 ekor). Secara garis besar hal ini disebabkan karena pengusahaannya tidak terlalu memerlukan penanganan yang rumit.

 

  • Perikanan

Berdasarkan potensi badan air yang ada, pengembangan perikanan dapat dilakukan, terutama perikanan budidaya, baik pada kolam, empang, maupun jaring apung atau keramba.  Jenis-jenis halis perikanan yang dibudidayakan antara lain Ikan Mas, Mujair, Nila, Lele Dumbo dan Bawal. Populasi ikan terbesar yang dibudidayakan adalah Ikan Nila sekitar 32 ton dengan nilai jual sebesar 720 juta, dan Ikan Mas sekitar 9 ton dengan nilai jual sebesar 202 juta.

 

  • Perkebunan

Perkebunan kelapa sawit dan kakao merupakan kegiatan perkebunan yang memiliki areal lahan terluas yaitu lebih dari 47.986,98 ha atau mencapai lebih dari 99% luas lahan  tanaman perkebunan di Kabupaten Keerom. Pada tahun 2010 komoditas kelapa sawit telah memberikan tanaman panen dengan luas 8.686,98 ha dengan produksi mencapai 90.588,16 ton, sedangkan kakao seluas 7.000ha mencapai 9.500 ton. Berdasarkan potensi lahan yang ada, komoditas perkebunan sangat potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Keerom, terutama komoditas yang banyak diminta pasar internasional (eksport) seperti kelapa sawit (CPO) dan Kakao. Disamping itu, komoditas tersebut mampu menggerakan industri berbasis pertanian (agro industri) dan menyerap banyak tenaga kerja baik pada on farm maupun off farm.

 

3. Penduduk dan Tenaga Kerja

  • Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Keerom pada tahun 2014 tercatat sebanyak 53.002 jiwa, yang terdiri atas 28.826 orang penduduk laki-laki (54,39 persen) dan 24.176 orang penduduk perempuan (45,61persen).

Jumlah rumah tangga di Kabupaten Keerom pada tahun 2014 adalah sebanyak 12.715 rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa secara rata-rata dalam 1 rumah tangga terdapat 4 anggota rumah tangga.

Sementara itu, tingkat density atau kepadatan penduduk pada tahun 2014 tercatat hanya 6 orang/km2. Distrik Arso memiliki tingkat kepadatan tertinggi yaitu 13 orang/km2. Sedangkan yang terendah di Senggi yang hanya 1 orang/km2.

Tingginya jumlah penduduk diatas usia 64 tahun dan penduduk usia 0-14 tahun menyebabkan Rasio Beban Tanggungan atau Dependency Ratio semakin tinggi. Dependency ratio di Kabupaten Keerom pada tahun 2014 tercatat sebesar 51,57 persen yang berarti di setiap 100 penduduk produktif memiliki tanggungan untuk membiayai 52 orang penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.

Rasio ini sebagian besar disumbangkan oleh ketergantungan penduduk muda yaitu sebesar 48,87 persen, sedangkan sumbangan rasio ketergantungan penduduk tua hanya sebesar 2,70 persen.

Sex Ratio atau perbandingan jenis kelamin penduduk di Kabupaten Keerom sebesar 119,23 artinya setiap 100 penduduk perempuan ada 119 penduduk laki-laki. Jumlah penduduk laki-laki yang lebih banyak dari perempuan terjadi di seluruh distrik. Hal ini ditandai dengan nilai sex ratio diatas 100 untuk seluruh distrik.

Dengan memakai dasar jumlah penduduk hasil sensus penduduk 2000 dan 2010, jumlah penduduk Kabupaten Keerom diproyeksikan meningkat menjadi 53.694 orang pada 2015. Penghitungan proyeksi penduduk tersebut menggunakan laju pertumbuhan penduduk geometris untuk mendapatkan angka pertumbuhan penduduk bertahap.

  • Tenaga Kerja

Penduduk yang dalam usia kerja dan memiliki potensial untuk dapat memproduksi barang dan jasa biasa disebut tenaga kerja. Sebelum tahun 2000, Indonesia memakai batasan 10 tahun ke atas untuk usia kerja. Akan tetapi sesuai dengan ketentuan ILO (International Labour Organisation), Indonesia menaikkan batasan usia kerja menjadi 15 tahun ke atas.

Berdasarkan data SP2010, 66,50% penduduk di Kabupaten Keerom termasuk dalam tenaga kerja. Akan tetapi tidak semua penduduk dalam usia kerja tersebut termasuk dalam angkatan kerja. Angkatan kerja adalah penduduk dalam usia kerja (tenaga kerja) yang memiliki pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan.

Besarnya jumlah tenaga kerja di Kabupaten Keerom merupakan gambaran besarnya penawaran tenaga kerja di wilayah ini. Akan tetapi apabila tidak terjadi peningkatan kesempatan kerja, maka pengangguran yang cukup besarpun akan terjadi.

Tingginya tingkat partisipasi tenaga kerja tersebut berbanding lurus dengan besarnya ketersediaan lapangan kerja di bidang pertanian. Hal ini tidaklah mengherankan karena Kabupaten Keerom merupakan daerah tujuan program transmigrasi sejak tahun 1980-an, dimana sebagian besar penduduknya memiliki mata pencaharian di bidang pertanian.

Pada tahun 2014 jumlah PNS di Kabupaten Keerom berjumlah 2.410 orang dimana sebagian besar berpendidikan S1.

 

4. Perekonomian

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah salah satu indikator makro ekonomi yang digunakan untuk melihat pergerakan ekonomi di suatu daerah. PDRB yang merupakan total dari nilai tambah yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan perekonomian yang ada di suatu daerah sangat dipengaruhi oleh proses pembangunan daerah yang sedang berjalan.

PDRB Kabupaten Keerom tahun 2014 atas dasar harga berlaku mencapai nilai 1,87 triliun rupiah atau meningkat 15,33 persen dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 1,62 triliun rupiah. Bahkan bila dibanding lima tahun sebelumnya (tahun 2009) nilai tersebut meningkat hampir dua kali lipat atau meningkat 92,69 persen.

Bukan hanya PDRB atas dasar harga berlaku yang mengalami peningkatan, PDRB atas dasar harga konstan pun mengalami peningkatan yang cukup besar. PDRB atas dasar harga konstan Kabupaten Keerom pada tahun 2014 adalah sebesar 1,54 triliun rupiah lebih atau meningkat 8,61 persen dari tahun 2013 yang tercatat sebesar 1,42 triliun rupiah.

Kontributor tertinggi dalam pembentukan nilai PDRB tahun 2014 di Kabupaten Keerom adalah kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi sebesar 34,24 persen atau sebesar 641,12 milyar rupiah. Meskipun masih mendominasi struktur perekonomian di Kabupaten Keerom, peranan kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan sudah jauh lebih rendah dibanding lima tahun sebelumnya yang rata-rata berkontribusi 37,42 persen.

Laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Keerom selama kurun waktu tiga tahun terakhir secara umum mengalami trend yang berfluktuatif dengan rata-rata pertumbuhan dua digit. Pada tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Keerom mencapai 8,61 persen.

PDRB perkapita mengalami trend yang meningkat dari tahun ke tahun, seiring dengan meningkatnya total nilai tambah sektor-sektor ekonomi. Hingga tahun 2014, nilai PDRB perkapita kabupaten ini telah mencapai 35,33 juta rupiah lebih atau meningkat 12,66 persen dari tahun 2013 yang sebesar 31,36 juta rupiah. Bahkan nilai ini telah meningkat 68,26 persen dari lima tahun sebelumnya (2009) yang saat itu bernilai 20,99 juta rupiah.

 

5. Infrastruktur

  • Transportasi

Sarana transportasi di Kabupaten Keerom cukup beragam. Sebagian wilayah telah dapat diakses melalui jalan darat. Namun beberapa daerah untuk mencapainya harus menggunakan speedboat/ perahu/ katingting (perahu bermesin) bahkan menggunakan pesawat/helikopter.

Distrik Towe merupakan salah satu distrik di Kabupaten Keerom dimana untuk mencapai wilayah tersebut hanya dapat menggunakan transportasi udara.

Sementara itu, wilayah di Kabupaten Keerom yang sudah dapat terakses jalur darat telah terhubung melalui jalan dengan permukaan jalan berbagai tipe. Panjang jalan di Kabupaten Keerom pada tahun 2014 mencapai 1.214,81 km.

Jalan tersebut meliputi 346,38 Km jalan negara (kelas IIIA), 194,70 Km jalan provinsi (kelas IIIB), dan jalan kabupaten (kelas IIIA dan IIIB) sepanjang 42,11 Km dan 631,62 Km. Jalan negara mencakup jalan menuju perbatasan antara Kabupaten Keerom dengan Negara Papua New Guinea. Ketiga jenis jalan tersebut berangsur-angsur mengalami pertambahan pengaspalan sejalan dengan pembangunan yang berlangsung di Kabupaten Keerom.

Berdasarkan catatan Dinas Pekerjaan Umum, sepanjang 338,48 km jalan di Kabupaten Keerom merupakan jalan beraspal. Jalan beraspal ini didominasi oleh jalan negara dan jalan provinsi mencapai panjang 194,77 Km. Sementara itu, jalan-jalan yang menghubungkan wilayah di Kabupaten Keerom sebagian besar masih merupakan pengerasan tanah yang ditimbun kerikil. Jalan kabupaten yang mengalami pengaspalan sepanjang 143,71 Km atau 21,33 persen dari total panjang jalan kabupaten. Sedangkan sepanjang 205,76 Km (30,54%) berupa timbunan kerikil dan sepanjang 138,26 Km (20,52 %) berupa tanah.

Pada umumnya kondisi jalan di Kabupaten Keerom dalam kondisi yang baik. Perbaikan yang telah dilaksanakan telah mengakibatkan meningkatnya kualitas jalan pada tahun 2014 dibandingkan tahun 2013.

Hal ini tercermin dari bertambahnya persentase jalan dengan kondisi baik dari jalan kabupaten. Perbaikan dan penambahan luas bahu jalan juga sedang berlangsung, antara lain yang terjadi di jalan raya trans papua.

Infrastruktur lain yang tidak kalah penting adalah sarana jembatan. Panjang jembatan di tahun 2014 mengalami peningkatan sebesar 2,15%, dari 2.651 m pada tahun 2013 menjadi 2.708 m pada tahun 2014. Penambahan panjang jembatan itu terjadi hampir di seluruh distrik.

Sebagian besar kampung di Kabupaten Keerom telah dapat di akses dengan kendaraan roda empat (69,08%). Namun demikian, kondisi alam yang sulit di Distrik Towe menyebabkan kampung-kampung yang terdapat di distrik ini tidak terakses oleh kendaraan roda empat. Sarana transportasi antar kampung hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

  • Pos dan Telekomunikasi

Selain akses jalan yang sedang mengalami perbaikan, sarana telekomunikasi di Kabupaten Keerom masih mengalami keterbatasan di beberapa wilayah, khususnya daerah terpencil. Kantor pos sebagai salah satu sarana telekomunikasi hanya terdapat di 2 distrik, yaitu kantor pos di Distrik Waris serta di Distrik Arso. Sepanjang tahun 2014, kegiatan yang dilakukan kantor pos mencapai 10.540 aktivitas atau naik 63,92 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya dengan 6.430 aktivitas.

  • Koperasi

Pada tahun 2013 terdapat 101 unit koperasi di Kabupaten Keerom. Sebanyak 72 unit koperasi merupakan Koperasi Unit Desa (KUD), sedangkan 29 unit lainnya merupakan koperasi Non-KUD. Jumlah koperasi terbanyak terdapat di Distrik Arso, yakni sebanyak 49 unit. Sementara itu, jumlah anggota koperasi di Kabupaten Keerom tahun 2013 tercatat sebanyak 8.794 anggota. Sebanyak 5.186 orang (58,97 persen) merupakan anggota KUD.

 

6. Rencana Pengembangan

Rencana pengembangan Wilayah pada Kabupaten Keerom sesuai dengan RTRW untuk kawasan Perdesaan akan dibentuk beberapa kawasan seperti: Kawasan Perkebunan, Kawasan Pertanian dan Kawasan Agropolitan.

Untuk meningkatkan lapangan kerja terhadap masyarakat Keerom Tahun 2014 Pemerintah Daerah Keerom akan mengembangkan tanaman Kakao di wilayah Keerom, khusus di wilayah Senggi, tanaman kakao tahun ini dikampanyekan demi meningkatkan penghasilan masyarakat. Pada tahun 2014, Pemerintah Daerah Keerom mengkampanyekan tanaman kakao di Distrik Senggi guna meningkatkan penghasilan masyarakat setempat.

Pemerintah Kabupaten Keerom tengah mengembangkan bahan bakar bio etanol yang dipergunakan untuk mengoperasikan pembangkit listrik di kawasan pedalaman. Di daerah pedalaman pengembangan produk bio etanol dan merubah genset yang menggunakan BBM dan memanfaatkan bio etanol. Pengembangan Bio Etanol hanya dilakukan di kawasan yang tidak terjangkau jaringan listrik PLN, agar ada pemerataan pembangunan di seluruh Keerom. Program tersebut dikhususkan di daerah-daerah pedalaman yang jangkauannya jauh dari jaringan PLN. Sedangkan untuk di wilayah kota, pemerintah memprogramkan penerangan jalan menggunakan energi matahari sebagai pembangkit dayanya.

Pemerintah Kabupaten Keerom memiliki satu program pembangunan yang dilaksanakan sejak 2011 yaitu BK3 yakni Bantuan Keuangan Kepada Kampung dimana setiap kampung mendapat bantuan dana dari pemerintah kabupaten sebanyak 1 milyar per kampung. Dana bersumber dari dana Otsus dan program seperti ini hanya diterapkan di kabupaten Kerrom sedangkan kabupaten lainnya di provinsi Papua tidak melaksanakan program ini. Pemberian bantuan 1 milyar kepada tiap kampung diberikan secara merata tanpa memperhitungkan luas wilayah dan jumlah penduduk. Jumlah kampung yang menerima bantuan dana BK3 pada tahun 2014 adalah 61 kampung. Mengenai jumlah kampung diketahui juga bahwa telah terjadi penambahan sebanyak 30 kampung sehingga jumlah kampung yang awalnya 61 menjadi 91. Proses ini tinggal menunggu waktu keputusan pengangkatan kepala pemerintahan kampung oleh pemerintah kabupaten.

Saat ini telah memiliki kawasan yang diprioritaskan menjadi kawasan ekonomi (pertanian pangan, perkebunan, dan ternak).Untuk Peternakan Sapi merata pada semua distrik namun distrik Senggi menjadikan Sektor peternakan sapi sebagai sektor unggulan. Selain itu Senggi memliki potensi pertambangan emas yang sangat besar namun belum dikelola dengan baik. Potensi pertanian lainnya yaitu kelapa sawit dan kakao. Pemerintah kabupaten Keerom dalam RTRW 2013-2033 telah menetapkan tiga kawasan strategis ekonomi yakni kawasan cepat tumbuh perkotaan yang berpusat di distrik Arso, dan Senggi serta menjadikan Distrik Waris sebagai simpul lintas batas.

Be the first to comment on "GAMBARAN UMUM KABUPATEN KEEROM PROVINSI PAPUA"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*