GAMBARAN UMUM KABUPATEN HALMAHERA BARAT

jailolo-kabupaten-halmahera-barat-1

1. Letak Geografis, Administratif dan Kondisi Fisik

  • Letak Geografis dan Administratif.

Halmahera Barat adalah Kabupaten Maluku Utara (Kabupaten Induk) yang berubah nama setelah terjadi pemekaran berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 2003 dan terletak di Pulau Halmahera. Kabupaten yang memiliki luas wilayah 14.823,16 km² dengan luas daratan 3.199,74 km² dan laut  seluas 11.623,42 km², ini terletak antara 1º.48’ lintang utara sampai 0º.48’ lintang utara, serta 127º.16.0” bujur timur sampai 127.16” bujur timur. Batas-batas wilayah Kabupaten Halmahera Barat, secara langsung:

  • Sebelah utara dibatasi oleh Kabupaten Halmahera Utara dan laut samudra pasifik.
  • Sebelah selatan dibatasi oleh Kota Tidore Kepulauan dan Kabupaten Halmahera Timur.
  • Sebelah timur dibatasi oleh Kabupaten Halmahera Utara.
  • Sebelah barat dibatasi oleh Laut Maluku.

Secara administratif Kabupaten Halmahera Barat dibagi atas 9 (Sembilan) kecamatan dan 146 (seratus empat puluh enam) desa. Kecamatan dengan luas wilayah terbesar adalah Kecamatan Loloda 606,04 Km², sedangkan yang terkecil Kecamatan Ibu 192,20 Km². Ibukota Kabupaten Halmahera Barat terletak di Kecamatan Jailolo yang dapat ditempuh dari dari seluruh kecamatan dengan perjalanan darat kecuali Kecamatan Loloda yang harus menempuh jalan laut.

Tabel.  Nama Kecamatan, Ibukota Kecamatan, Luas Wilayah, dan Jumlah Desa Kabupaten Halmahera Barat

No. Kecamatan Ibu Kota Kecamatan Luas Wilayah (Km²) Jumlah Desa
1 Jailolo Gupasa 333,16 29
2 Jailolo Selatan Akelamo Raya 241,05 18
3 Jailolo Timur Sidangoli 239,19 6
4 Sahu Susupu 136,74 16
5 Sahu Timur Akelamo 291,42 16
6 Ibu Tongute Sungi 192,20 13
7 Ibu Selatan Talaga 412,18 13
8 Ibu Utara Duono 223,65 13
9 Loloda Kedi 606,04 22
Total 2.612,23 146

Sumber  : BAPPEDA Kabupaten Halmahera Barat

 

Peta-Kabupaten-Halmahera-Barat

Gambar. Peta Administrasi Kabupaten Halmahera Barat

 

Dari 146 (seratus empat puluh enam) desa yang tersebar di Kabupaten Halmahera Barat, ada yang termasuk desa pesisir  sebanyak 72 (tujuh puluh dua) desa dan yang bukan pesisir sebanyak  74 (tujuh puluh empat) desa.

  • Topografi

Kabupaten Halmahera Barat sendiri merupakan bagian dari Pulau Halmahera,  tepatnya di sebelah barat Pulau Halmahera yang sebagian besar terdiri dari bukit dan pegunungan, dimana luas daerah berbukit/bergunung adalah sebesar 138.449 Ha atau 61,98% dari luas wilayah daratan. Topografi Kabupaten Halmahera Barat terdiri dari 4 kategori, yaitu :

  • Tanah datar dengan kelas lereng <  3% seluas 3.193 Ha (1,4%);
  • Tanah landai dengan kelas lereng 3-15% seluas 23.201,5 Ha (10,38%);
  • Tanah  agak  curam  dengan  kelas lereng  15 – 40%  seluas 58.517 Ha   (26,25%); dan
  • Tanah curam dengan kelas lereng > 40 % seluas 138.499,5 Ha (61.98%).

 

  • Klimatologi

Halmahera Barat dipengaruhi oleh iklim laut tropis dengan curah hujan antara 1500-3500 mm/ tahun. Klasifikasi wilayah berdasarkan curah hujan adalah sebagai-berikut:

  • Wilayah Kecamatan Jailolo dan Jailolo Selatan memiliki curah hujan rata-rata sebesar 1500-2000 mm;
  • Wilayah Kecamatan Sahu, Sahu Timur pada dataran rendah mulai dari pesisir pantai memiliki curah hujan rata-rata 2501–3000 mm, sedangkan bagian timur wilayah kecamatan curah hujan rata-rata sebesar 1501 – 2000 mm;
  • Wilayah Kecamatan Ibu Utara, Ibu, Ibu Selatan memiliki curah hujan rata-rata 2501–3000 mm; dan
  • Wilayah Kecamatan Loloda bagian Selatan memiliki curah hujan 2501–3000 mm, sedangkan bagian utara memiliki curah hujan 3001–3500 mm.

 

  • Jenis Tanah

Tanah adalah hasil pelapukan dari batuan yang meliputi semua bahan yang terdapat pada permukaan kulit bumi dan bersifat lunak atau lepas sehingga mudah digusur, dicangkul, atau digali. Karakteristik tanah di Kabupaten Halmahera Barat menunjukan sifat – sifat yang berbeda mulai dari Kecamatan Jailolo Selatan di bagian selatan hingga Kecamatan Loloda Selatan di bagian utara Halmahera Barat yang dipengaruhi oleh proses – proses geologi dan iklim. Menurut jenis medianya dan proses geologi yang mempengaruhinya, jenis tanah pada Kabupaten Halmahera Barat terdiri dari Jenis Tanah Alluvial, Latosol, Regosol, dan Podsolik Merah Kuning. Adapun sebaran dari masing – masing jenis tanah di daerah Kabupaten Halmahera Barat antara lain :

  1. Jenis Tanah Alluvial terdapat pada Kecamatan Jailolo Selatan dan Jailolo Timur.
  2. Jenis Tanah Latosol terdapat pada Kecamatan Jailolo Selatan, Jailolo Timur, Jailolo dan Loloda Selatan.
  3. Jenis Tanah Regosol terdapat pada kecamatan Jailolo, Sahu, Sahu Timur, Ibu, Ibu Utara, Ibu Selatan, dan Loloda Selatan.
  4. Jenis Tanah Podsolik Merah Kuning terdapat pada Kecamatan Loloda Selatan.

 

  • Kondisi hidrologi

Berdasarkan pola alirannya, maka sungai-sungai yang terdapat di Wilayah Kabupaten Halmahera Barat dapat di bagi dalam 2 (dua) kelompok. Kelompok yang pertama adalah sungai-sungai yang memiliki pola aliran sungai murni dendrik, sungai-sungai tersebut sebagian besar terdapat pada Kecamatan Ibu dan Kecamatan Sahu dengan luas daerah tangkapan ± 215.000 Ha. Sedangkan kelompok yang kedua adalah sungai yang memiliki pola aliran radial, sungai-sungai tersebut umumnya terdapat di Kecamatan Loloda, Jailolo, dan Jailolo Selatan. Pada musim kemarau sungai-sungai yang berada di daerah ini dapat mengalami kekeringan. Hal ini dipengaruhi oleh tekstur batuan pada daerah tangkapan yang bertekstur pasir (sandy) dan mudah larut dalam air. Pola aliran sungai-sungai di Kabupaten Halmahera Barat tersebut menghasilkan daya run-off hingga menciptakan tingkat erosi mencapai 0,13 ton/tahun.

 

2. Pontesi Sumberdaya Alam

  • Sektor Perikanan

Potensi perikanan di Kabupaten Halmahera Barat sangat bagus. Hal ini terlihat dari jumlah produksi perikanan laut pada tahun 2014 yang mencapai 12.621 ton dengan nilai produksi sebesar Rp37.863.300.000. Selain itu, perikanan darat dan rumput laut juga cukup potensial untuk dikembangkan. Pada tahun 2014 tercatat produksi perikanan darat sebesar 200,3 ton dan rumput laut sebesar 285 ton’

Potensi sub sektor perikanan di Halmahera Barat adalah perikanan tangkap, dengan jenis ikan cakalang, tuna, jenis ikan pelagis kecil lainnya serta jenis-jenis ikan demersal. Jumlah produksi perikanan tangkap sebesar 14.312, 78 ton/tahun, dari total produksi tersebut kontribusi terbesar terdapat di Kecamatan Loloda dengan jumlah produksi 3.951 ton/tahun, kemudian Kecamatan Jailolo sebesar 3.365 ton/tahun dan Kecamatan Ibu sebesar 2.850 ton/tahun.

Sedangkan perikanan darat, Halmahera memiliki 4 sentra produksi perikanan budidaya dengan jenis ikan mas, bandeng, dan nila. Keempat sentra produksi tersebut terdapat di Desa Jarakore Kecamatan Sahu, Desa Golago Kusuma Kecamatan Sahu Timur, Desa Payo, Bobo, dan Porniti Kecamatan Jailolo, Desa Talaga Kecamatan Ibu Selatan, dan Desa Tiga Sekawan Kecamatan Ibu Utara.

  • Sektor Pertanian

Sub sektor pertanian merupakan salah satu potensi yang menjadi andalan Kabupaten Halmahera Barat. Potensi tersebut antara lain tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan. Dengan posisi yang strategis berada dekat dengan Kota Ternate, Sub sektor pertanian Halmahera Barat menjadi pemasok utama hasil-hasil untuk pasar di Kota Ternate.

Tanaman Pangan Halmahera Barat memiliki tingkat keragaman komoditas yang sangat tinggi. Ada tujuh komoditas di sub sektor Tanaman Pangan yang banyak diusahakan oleh petani di Halmhera Barat. Komoditas tersebut yaitu; padi sawah, padi ladang, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, dan kacang kedelai.  Komoditas ini tersebar di 9 (sembilan) kecamatan di Halmahera Barat.

Padi sawah hanya diusahakan oleh petani di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Jailolo, Sahu Timur, dan Ibu Selatan. Rendahnya usaha padi sawah di Halmahera Barat karena budaya masyarakat bukan sebagai petani padi sawah, tetapi padi ladang (padi gogo). Selain itu, keterbatasan lahan yang memiliki kecocokan untuk padi sawah hanya terdapat di kecamatan tertentu saja termasuk di 3 (tiga) kecamatan penghasil padi sawah tersebut. Luas lahan padi sawah yang terdapat di 3 (tiga) kecamatan relatif kecil. Total luas lahan sawah sebesar di Halmahera Barat adalah 74 hektar (Ha), sedangkan luas panen baru mencapai 57 Ha, Rata-rata produksi padi sawah di Halamhera Barat sebesar 3.6 Ton per hektar. Kondisi ini masih jauh dari rata-rata produksi padi nasional + 7 Ton per Ha.

Komoditas padi ladang diusahakan di 8 (delapan) kecamatan Kabupaten Halmahera Barat, hanya Kecamatan Jailolo Timur yang tidak mengusahakan komoditas padi ladang. Total luas lahan padi ladang sebesar 894 Ha, dengan luas panen sebesar 871 Ha, dengan rata-rata produktivitas sebesar 2.5 Ton per Ha. Dengan kondisi tersebut potensi padi ladang berada di kawasan Sahu dan Ibu, pada 2 wilayah sentra produksi padi ladang ini terdapat 5 kecamatan, dimana budaya masyarakat petani adalah petani tanaman keras dan padi ladang.

Halmahera Barat mempunyai potensi komoditas jagung yang cukup potensial, dengan luas lahan sebesar 1.619 Ha, memiliki luas panen sebesar 1.402 Ha, dan Produksi sebesar 4.968 Ton/Tahun, atau memiliki produktivitas rata-rata sebesar 3.5 Ton per Ha. Namun usaha ini tidak menyebar merata, hanya di Kecamatan Jailolo dan Sahu Timur yang banyak diusahakan oleh petani, sedangkan Kecamatan Jailolo Timur tidak ada yang mengusahakan komoditas jagung. Orientasi produksi jagung Halamhera Barat masih sebatas pasar lokal dan regional, yaitu pasar di wilayah Halamhera Barat dan Kota Ternate.

Kecamatan Jailolo Selatan, Sahu Timur, Sahu, dan Jailolo adalah wilayah-wilayah yang memiliki potensi komoditas ubi kayu (kasbi). Total luas lahan ubi kayu di Halamhera Barat sebesar 2.071 Ha, dengan luas panen sebesar 2.047 Ha. Produksi ubi kayu Halamhera Barat sebesar 19.123 ton/tahun, atau rata-rata produksi sebesar 9.341 Ton/Ha. Namun dengan potensi tersebut ubi kayu tersebut belum mempunyai  orientasi pasar ke sektor industri. Selama ini ubi dijadikan oleh masyarakat Halamhera Barat sebagai komoditas pengganti atau pelengkap kebutuhan karbohidrat.

Komoditas ubi jalar (batata) banyak diusahakan di Kecamatan Ibu Selatan, Ibu Utara, dan Ibu. Sedangkan kecamatan lainnya memiliki luas lahan yang kecil. Total luas lahan ubi jalar di Halamhera Barat sebesar 917 Ha, dengan luas panen sebesar 870 Ha, sedangkan produksi sebanyak 7.044 ton/tahun, produksi rata-rata ubi kayu di Halamhera Barat sebesar 8 ton/Ha. Orientasi pasar ubi jalar hampir sama dengan komoditas pangan lainnya hanya pada pasar lokal dan regional di Ternate.

Kacang Tanah sebagian besar diusahakan di Kecamatan Ibu Utara dan Sahu Timur. Sedangkan di 7 (tujuh) kecamatan lainnya diusahakan tidak sebesar 2 (dua) kecamatan tersebut. Luas lahan kacang tanah sebesar 768 Ha, untuk luas panen sebesar 748 Ha, dengan produksi sebesar 785 Ton/tahun, atau rata-rata produktivitas sebesar 1 Ton/Ha. Orientasi kacang tanah juga masih disekitar pasar lokal dan regional yaitu di Wilayah Halamhera Barat dan Kota Ternate.

Komoditas kedelai di Halamhera Barat hanya diusahakan di 2 (dua) kecamatan yaitu di Kecamatan sahu Timur dan Kecamatan Jailolo. Total luas lahan adalah 41 Ha, dengan luas panen sebesar 37 Ha. Dengan kondisi tersebut kedelai di Halamhera Barat diproduksi sebesar 39 ton/tahun, dengan rata-rata produktivitas 1 Ton/Ha.

Untuk tanaman hortikultura Halamhera Barat juga memiliki potensi yang besar, diantaranya terdapat komoditas sayur-sayuran dan komoditas buah-buahan. Komoditas sayuran seperti tomat, petsai, kubis, ketimun, terong, buncis, kacang panjang, cabe, kangkung, dan bayam. Sedangkan buah-buahan yaitu alpukat, jeruk, belimbing, sukun, durian, jambu, manggis, semangka, mangga, langsat, nenas, nangka, rambutan, dan salak. Masing-masing komoditas ini tersebar di 9 (sembilan) kecamatan. Umumnya komoditas hortikultura tersebut di pasarkan selain di wilayah Halamhera Barat juga dipasarkan di Kota Ternate dan Kota Tobelo.

  • Perkebunan

Tanaman perkebunan yang banyak diusahakan di Kabupaten Halmahera Barat adalah kelapa. Hal ini terlihat dari jumlah luas lahan tanaman kelapa yang mencapai 31.644 Ha. Nilai produksi tanaman kelapa pada tahun 2014 tercatat sebanyak 31.961 ton dengan rata-rata produksi 14 Kw/Ha. Sebagian besar produksi kelapa diolah untuk dijadikan kopra, yaitu bahan baku pembuatan minyak goreng.

Selain kelapa, tanaman coklat, cengkeh dan pala juga banyak terdapat di Kabupaten Halmahera Barat. akan tetapi baik luas lahan maupun nilai produksinya masih dibawah tanaman kelapa. Rata-rata produksi pada tahun 2012 untuk tanaman kakao, cengkeh dan pala berturut-turut sebesar 8,64 Kw/Ha, 4,02 Kw/Ha dan 5,97 Kw/Ha.

  • Peternakan

Jenis hewan ternak yang banyak terdapat di Kabupaten Halmahera Barat pada 2014 diantaranya adalah sapi, kambing, dan babi. Populasi ternak terbesar didominasi oleh babi, yaitu sebanyak 21.487 ekor. Sedangkan ternak dengan jumlah terkecil adalah sapi, yaitu sejumlah 12.030 ekor. Selain ternak, juga terdapat komoditi ungags seperti ayam kampung dan itik yang juga diusahakan di Kabupaten Halmahera Barat. Pada tahun 2014 tercatat sebanyak 111.869 ekor ayam kampung dan 5.159 ekor itik.

  • Kehutanan

Wilayah Halmahera Barat juga memiliki kekayaan alam berupa hutan yang masih asri dan alami. Sebagian besar hutan di wilayah Halmahera Barat adalah hutan lindung, yaitu seluas 78.873,94 Ha. Wilayah hutan yang digunakan sebagai hutan produksi masih sangat minim, yaitu hanya seluas 5.066,53 Ha.

 

jailolo-kabupaten-halmahera-barat

3. Penduduk dan Tenaga Kerja

  • Penduduk

Penduduk Kabupaten Halmahera Barat pada Tahun 2014 adalah sebanyak 108.769 jiwa. Dari jumlah tersebut penduduk laki-laki berjumlah 55.568 jiwa dan penduduk perempuan sejumlah 53.201 jiwa. Jumlah penduduk terbesar ada di Kecamatan Jailolo, yakni sebanyak 32.788 jiwa atau 30,14 persen dari total jumlah penduduk di Kabupaten Halmahera Barat.

Pada tahun 2014, rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Halmahera Barat adalah 104. Nilai tersebut dapat diartikan bahwa terdapat 104 orang penduduk laki-laki per 100 orang penduduk perempuan di Kabupaten Halmahera Barat. Rasio jenis kelamin per kecamatan keseluruhannya diatas 100, yang berarti di setiap kecamatan jumlah penduduk laki-laki lebih banyak daripada jumlah penduduk perempuan.

Kepadatan penduduk di Kabupaten Halmahera Barat pada Tahun 2014 adalah 46 jiwa/km2. Angka tersebut menunjukkan bahwa terdapat 46 jiwa setiap 1 km2 luas wilayah. Kepadatan penduduk tertinggi adalah di Kecamatan Jailolo yakni 145 jiwa/km2 dan Kecamatan Jailolo Selatan dengan 92 jiwa/km2.

 

  • Tenaga Kerja

Penduduk Usia Kerja (PUK) didefinisikan sebagai penduduk yang berumur 15 tahun keatas. PUK terdiri dari Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja. Mereka yang termasuk Angkatan Kerja adalah penduduk yang bekerja dan sedang mencari pekerjaan. Sedangkan Bukan Angkatan Kerja adalah mereka yang bersekolah, mengurus rumah tangga atau melakukan kegiatan lainnya.

PUK di Kabupaten Halmahera Barat pada Tahun 2014 berjumlah 72.854 jiwa dengan angkatan kerja berjumlah 51.365 jiwa atau 70,50 persen dari total PUK. Dari jumlah tersebut, tercatat 49.310 jiwa berstatus bekerja dan selebihnya berstatus pengangguran, yaitu mereka yang sedang mempersiapkan usaha, sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja, dan yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan.

Secara umum sebagian besar penduduk Kabupaten Halmahera Barat bekerja di sektor Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan yang berjumlah 37.008 orang atau 75,05 persen dari jumlah penduduk yang bekerja. Sektor lain yang juga menyerap tenaga kerja cukup besar diantaranya adalah sektor Jasa Kemasyarakatan Sosial dan Perorangan serta sektor Industri.

 

4. Perekonomian

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) diartikan sebagai keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan atau diproduksi dalam kurun waktu satu tahun di suatu wilayah. Dengan demikian dapat diartikan bahwa PDRB Tahun 2014 Kabupaten Halmahera Barat merupakan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan selama Tahun 2014 di Kabupaten Halmahera Barat.

PDRB Kabupaten Halmahera Barat atas dasar harga berlaku pada tahun 2014 tercatat sebesar 1.463.987,78 juta rupiah, dengan kontribusi terbesar diberikan oleh sektor pertanian, yakni sebesar 576.494,23 juta rupiah atau mencapai 39,38 persen. Kontribusi terendah diberikan oleh sektor pengadaan listrik dan gas, yaitu sebesar 584,6 juta rupiah atau hanya sebesar 0,04 persen.

PDRB Kabupaten Halmahera Barat atas dasar harga konstan (2010) pada Tahun 2014 tercatat sebesar 1.179.568,58 juta rupiah atau meningkat sebesar 5,40 persen dibandingkan tahun 2013.

 

5. Infrastruktur

  • Transportasi

Jalan merupakan prasarana angkutan darat yang sangat penting untuk memperlancar kegiatan perekonomian. Usaha pembangunan yang makin meningkat membutuhkan ketersediaan akses penghubung antar wilayah yang aman dan berkondisi baik. Selain itu, ketersediaan prasarana jalan yang baik akan meningkatkan mobilitas penduduk dan kelancaran distribusi barang antar wilayah sehingga roda perekonomian terus bergerak dan dapat ditingkatkan.

Keseluruhan panjang jalan di Kabupaten Halmahera Barat terbagi atas 73,81 persen jalan kabupaten, 9,30 persen jalan propinsi, dan 16,89 persen jalan negara. Kondisi jalan di Kabupaten Halmahera Barat masih cukup banyak yang rusak. Selama tahun 2011 tercatat panjang jalan kabupaten yang rusak mencapai 61,24 persen dari total panjang jalan kabupaten. Berdasarkan jenis perkerasan, jalan kabupaten terbanyak adalah jalan tanah, yaitu total sepanjang 355,30 Km.

  • Komunikasi

Pembangunan sarana pos dan telekomunikasi ditujukan untuk meningkatkan kelancaran arus informasi antar wilayah. Kelancaran informasi dan komunikasi dapat menunjang peningkatan kegiatan perekonomian dan pembangunan di Kabupaten Halmahera Barat. pada tahun 2014, tercatat terdapat tiga kantor pos pembantu, yaitu di Kecamatan Jailolo, Jailolo Selatan, dan Ibu.

  • Air Bersih

Jumlah air bersih yang disalurkan oleh PDAM Kabupaten Halmahera Barat selama tahun 2014 mencapai 833.817 m3 dengan nilai produksi sebesar Rp.2.525.812.200,-. Pelanggan terbanyak adalah dari unit IKK Jailolo, yaitu sebanyak 46,35 persen, sedangkan terendah adalah di unit IKK Loloda, yaitu sebanyak 5,84 persen dari jumlah pelanggan.

 Jailolo – Halmahera Barat

6. Rencana Pengembangan

Kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Halmahera Barat, meliputi kebijakan perencanaan ruang, pemanfaatan ruang, dan kebijakan pengendalian ruang.

  • Kebijakan Perencanaan Ruang

Kebijakan perencanaan ruang disusun dalam rangka mewujudkan perencanaan ruang yang berkelanjutan dan operasional, serta mengakomodasi paradigma baru dalam perencanaan. Kebijakan perencanaan ruang, terdiri atas:

  1. Penyusunan dan peninjauan kembali rencana tata ruang dilakukan dengan pendekatan partisipatif. Kebijakan ini bertujuan untuk mewujudkan rencana tata ruang sesuai dengan kaidah penataan ruang.
  2. RTRW Kabupaten ditinjau kembali dan/atau disempurnakan 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dalam hal RTRW Kabupaten tidak mampu untuk mengakomodasikan dinamika perkembangan yang disebabkan oleh faktor eksternal maupun internal, perubahan kondisi lingkungan strategis tertentu yang berkaitan dengan bencana alam skala besar, serta ditetapkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan/atau perubahan batas wilayah provinsi berdasarkan undang-undang.

Kebijakan ini bertujuan untuk:

  • Mewujudkan sinkronisasi antara perencanaan ruang dengan perencanaan sektoral dan wilayah;
  • Mewujudkan keselarasan perencanaan ruang antara rencana ruang provinsi, dengan rencana ruang kabupaten yang berdekatan lokasinya.
  1. RTRW kabupaten perlu ditindaklanjuti ke dalam rencana yang lebih terperinci. Kebijakan ini bertujuan untuk merinci arahan pemanfaatan ruang yang tertuang dalam RTRW kabupaten.
  2. RTRW Kabupaten wajib menyelaraskan dengan subtansi RTRWP. Kebijakan ini bertujuan untuk mewujudkan keterpaduan dan keterkaitan perencanaan tata ruang antara provinsi dengan Kabupaten dan antar Kabupaten.

 

  • Kebijakan Pemanfaatan Ruang

Kebijakan Pengembangan Wilayah

Kebijakan pengembangan wilayah bertujuan untuk meminimalisasi kesenjangan kesejahteraan masyarakat antar wilayah, dalam hal ini kesenjangan antarwilayah perkotaan dan pedesaan. Kebijakan pengembangan wilayah terdiri atas:

  1. Pembagian 4 (empat) Wilayah Pengembangan (WP) : WP Jailolo, WP Sidongoli, WP Tongute ternate dan WP Kedi. WP dilaksanakan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan pembangunan dan merealisasikan rencana tata ruang.
  2. Keterkaitan fungsional antar WP dan antar pusat-pusat pengembangan (PKL 1, PKL 2 dan PKL 3).

Keterkaitan fungsional antar WP dan antar pusat-pusat pengembangan dilakukan dalam rangka meningkatkan fungsi antar WP, meliputi :

  • Kawasan yang terletak di bagian tengah selatan kabupaten, mencakup WP Jailolo, menjadi kawasan yang dikendalikan perkembangannya.
  • Kawasan yang terletak di bagian tengah utara dan selatan kabupaten, mencakup WP Tongute ternate dan WP Sidongoli, ditetapkan sebagai kawasan yang didorong perkembangannya.
  • Kawasan yang terletak di bagian utara kabupaten, meliputi WP Kedi, ditetapkan menjadi kawasan yang ditingkatkan perkembangannya.

Be the first to comment on "GAMBARAN UMUM KABUPATEN HALMAHERA BARAT"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*